SUZUKI NEX TONY MOTOR.mampu melawan rifalnya di ajang balap.

SUZUKI NEX TETAP MENDOMINASI DIKELAS 130CC OPEN&LOKAL.
dengan joki,AYAT YONY MOTOR.mampu meninggalkan lawannya.

mampu melawan rifalnya dan mendapatkan pringkat ke1 dikelas metik 130cc open.&kelas lokal.

MOTOR DRAG RACE

Mtr DRAG

Mtr DRAG

CC /RASIO KOMPRESI MOTOR STANDAR

Halo semua saudara-saudaraku sepermainan korek motor  hehehehe… Wanna share about standard specification motor nih, berdasarkan data volume silinder dan perbandingan kompresi maka kita dapat memperkirakan volume ruang bakar. Jika ada data yang lebih lengkap bisa menambahi sehingga lebih bermanfaat untuk semua saudara-saudara kita sesama pecinta korek mesin

mesin drag

mesin drag

No || Motor || Bore x Stroke || Volume Silinder || Rasio Kompresi

1. Kawasaki Blitz R 53 mm x 50.6mm 111 cc 9.3 : 1

2. Kawasaki Athlete 56 mm x 50.6mm 124.6 cc 9.8 : 1

3. Kawasaki Ninja 250 62 mm x 41.2mm 2x 124.5 cc 11.5 : 1

4. Kawasaki KLX 250 72 mm x 61,2mm 249cc 11 : 1

5. Yamaha Crypton 49 mm x 54mm 101.8 CC 9.0 : 1

6. Yamaha Mio 50.0 x 57.9 mm 113.7 cc 8.8 : 1

7. Yamaha Jupiter z  51.0 x 54.0 mm  110.3 cc  9.3 : 1

8. Yamaha Jupiter MX 54 x 58,7 mm  135 cc 10.9 : 1

9. Yamaha Vixion 57 x 58,7 (mm) 149.8cc  10.4 : 1

10.Yamaha Scorpio Z 70 x 58 mm  223cc  9.5 : 1

11. Yamaha RX King  58 x 50 mm  132cc   7.1 : 1

12. Yamaha RXZ      56 x 54 mm  133cc   7.0 : 1

13. Yamaha F1Z       52 x 52mm   110.4cc  7.1 : 1

14. Yamaha Alfa       50 x 52mm   102.1 cc    7.2 : 1

15. Honda GL 100  52 x 49.5mm  105.1 cc  9.2 : 1

16. Honda GL Max  56.5 x 49.5mm 124.1 cc   9.2 : 1

17. Honda GL Pro    61.0 x 49.5mm  144.7cc 9.2 : 1

18. Honda Supra     50.0 x 49.5mm 97.1 cc   8.8 : 1

19. Honda Tiger      63.5 x 62.2 mm  196.9cc   9.0 : 1

20. Honda Megapro 63,5 x 49,5 mm 156.7cc 9.0 : 1

21. Honda CS-1 58 x 47,2 mm  124.7 cc  10.7 : 1

22. Honda Supra PGM FI  52,4 x 57,9 mm  124.8cc 9.0 : 1

23. Honda Blade 50 x 55,6 mm 109.1 cc 9.0 : 1

Semoga saja,ini bisa menjadi panduan kalian semua,yang ingin buat motor bore up…………………………..!!!

porting polish

Kenapa tidak memoles porting??
Bukankah udara mengalir lebih bagus pada permukaan halus???

Ingat tujuan akhir kita bukanlah “flow” tapi = POWER!!

Intake port akan mengalirkan campuran udara dan bahan bakar. Masalahnya pada bahan bakar, dengan berat jenis masa yang lebih besar daripada udara, semakin sulit untuk mencampurkan dengan udara saat mengikuti bentuk kontur lekukan pada porting.

Boundary Layer

Saat kamu mengemudi mobil dalam kondisi hujan coba perhatikan saat mobil melaju hampir 100km/h, tetes hujan bergerak naik ke atas melawan gaya gravitasi. Dikarenakan permukaan mobil yang halus menciptakan sebuah lapisan bayangan, dan kapasitas lapisan udara yang mendekati permukaan tersebut hampir sama. Sehingga memudahkan cairan tergelincir.

Hal yang sama terjadi pada lubang intake. Buih bahan bakar yang jatuh di ruang porting akan jatuh lebih lambat daripada aliran udara. Menciptakan perubahan campuran udara-bahan bakar saat tetesan ini memasuki silinder dan menghancurkan potensial power yang diciptakan mesin. Memoles ruang porting memperbesar kemungkinan udara-bahan bakar menjadi tidak homogen.

Ingat!! Kasar == Bagus!!

30052011843

lubang porting

Cara menghitung durasi camshaft/kem lewat cam gear

 

Cara menghitung durasi camshaft/kem lewat cam gear

Masih banyak mekanik yang malas belajar hitung derajat durasi kem pada korek mesin 4-tak. Umumnya hanya pahami perubahan hitungan buka-tutup klep pada mata sproket keteng atau gigi sentrik

Kerugiannya, hitungan itu sulit dipahami ukurannya. Terutama untuk kepentingan riset lanjut ke bagian lain, seperti knalpot atau pengapian. Juga dianggap kurang presisi lantaran mata gir ukurannya gede.

Otomatis, riset akan berjalan serba meraba. Makanya, lebih bagus jika ada hitungan derajat yang mudah dimengerti banyak orang,

Maksudnya, hitungan derajat itu memudahkan patokan riset bagian lain dengan mudah. Misal, mau pasang kurva pengapian X karena butuh untuk durasi yang relatif panjang Y derajat. Beda dengan kalau patokannya buka di X mata setelah TMA dan nutup Y mata sebelum TMA, Gimana coba? Pusing kan?

Nah,cara sederhana hitung derajat dengan membaca buka-tutup di gigi sentrik. Meski enggak presisi benar, tapi paling tidak kita bisa pahami dan ambil patokan dalam riset

Caranya mudah. Pertama, Bagi dulu 360 derajat dengan jumlah mata pada gigi sentrik. Maka akan ketemu patokan nilai setiap mata gigi itu berapa derajat

Coba kita simulasikan di Honda Supra. Jumlah mata gigi sproket keteng ada 28 mata. Maka 360/28=12,85. Dibulatin jadi 13 derajat.

Sebelum lanjut, sepakati dulu yang akan dihitung adalah durasi putaran kem. Beda dengan hitung durasi putaran poros engkol atau crank-saft. Karena, dua kali putaran poros engkol sama dengan satu kali putaran kem,

Memakai asumsi tadi, maka ketika kita coba bagi lingkaran gigi sentrik itu jadi empat quadran. Masing-masing kuadaran I, II, III, IV, maka 180 derajat dari posisi TMA akan ketemu TMA lagi. Demikian pula dengan posisi TMB (gbr. 2).

Perlu disepakati pula cara hitung dari titik quadran itu. Biar mudah, klep out dihitung giginya di posisi setelah TMA. Baik buka maupun tutupnya

Sehingga, untuk klep in dihitung giginya sebelum TMA atau sesudah TMB, dan nutup sebelum TMA atau sebelum TMB (gbr. 3).

Misal, klep buang membuka 3 mata setelah TMA, artinya 3X13 = 39 derajat setelah TMA. Atau 51 derajat sebelum TMB> Kalau nutup 2 mata setelah TMA, maka bisa dihitung 2X13=26 derajat setelah TMA.

Berarti, durasinya kem buang (90-39) + 90 + 26 = 167 derajat. Kalau model kem kembar in dan out-nya, maka durasi total gabungan kem adalah 2 X 167 = 334 derajat. Begitu pula dengan durasi poros engkol yaitu 334 derajat.

Kalau hitungannya dari klep in, maka cara hitungannya adalah derajat bukaan sebelum TMA + 90 + gigi nutup. Misal, buka 4 mata sebelum TMA dan nutup 2 mata sebelum TMA, maka (4X13) + 90 + (2X13)= 52+90+26= 168 derajat.

Toleransi penggunaan mata gigi melesetnya lumayan jauh. Dibanding penggunaan derajat berkisar antara 1-5 derajat. Enggak bisa pastikan pas banget berada di posisi 1 mata, 0,5 mata atau 0,25 mata persis dan presisi mungkin.

Satu lagi, agar mudah, penghitungan dimulai dengan patokan

kohar

DURASI NOKENAS

0, serta dihitung sejak 0,1 mm klep ngangkat. Jadi enggak menyulitkan dan enggak berbeda-beda ambil patokannya

“TONY MOTOR”

tune up honda blade

tune up honda blade

Perlu Bikin Bushing

5556subtitusi-kem-axl-1.jpgBikin ngibrit Honda Blade enggak perlu pusing. Apalagi kalau mencari part pengatur buka-tutup klep yang juga otak mesin empat langkah alias kem. Sebab, kini sobat bisa melirik noken as racing skubek. Utamanya, milik Honda BeAT. Jadi, enggak perlu susah mencari part racing Blade.

Makin mantap, karena banyak produsen part racing skubek juga menyediakan kem BeAT. Iya lha, kan sekarang ada matik race. Makanya, part racing skubek jadi ikut bermain. He..he..he… Boleh dibilang, makin jadi banyak pilihan yang bisa diboyong.

“Tapi, usahakan untuk mencari part yang memang bagus bahannya. Sedang pencarian durasi, belum tentu semua bisa langsung pakai. Tergantung kebutuhan juga seting yang diterapkan di mesin itu sendiri,” ujar Sartogu Monte dari tim Honda Banten.5557subtitusi-kem-axl-2.jpg

Saran pria yang akrab disapa Monte ini, cari kem racing yang sudah aplikasi pinggang dan lift klep tinggi. “Jadi, nantinya enggak perlu lagi dilas kemudian baru dipapas untuk cari durasi yang dimaui,” timpal pria berdarah Medan ini.

Iya, seperti kebanyakan metode yang dilakukan banyak mekanik ketika melakukan seting noken as. Sehingga, durasi yang diterapkan bisa lebih lama untuk membuat klep semakin tinggi membuka. Tidak sedikit kem racing yang sudah menerapkan pinggang atau lift tinggi untuk produknya.

Misalnya, kem Kawahara. Kem buatan produsen yang cukup digemari di kalangan pecinta pacuan matik ini sudah aplikasi apa yang disebut di atas. Dengan pinggang kem 26,8 mm dan tinggi 31,80 mm, sehingga noken as ini masih bisa dipapas tanpa perlu harus dilas terlebih dulu demi mencapai kontruksi yang diinginkan.

5558subtitusi-kem-axl-3.jpgApalagi setidaknya, kem yang dibutuhkan untuk Blade bermain di arena balap hanya di kisaran pinggang 26,5 mm dan tinggi 30 mm. Jelas makin mempermudah sobat karena cukup dilakukan teknik pemapasan aja. Tul gak?

Untuk pemasangannya, memang sedikit butuh keahlian expert sih. Sebab, harus mengakali di bagian kepala silinder. Terutama, bagian dudukan kem paling luar. Itu tuh, yang dekat gigi sentrik.

“Tapi, penyesuaiannya tidak hanya sebatas itu saja. Butuh bikin bushing lagi. Pastinya di bagian dudukan kem yang terletak di kepala silinder. Sebab, bearing yang dipakai BeAT dengan Blade memang memiliki ukuran yang berbeda,” ungkap Monte yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia balap.

Oh, setelah dilakukan pengukuran, terbukti memang kalau bearing alias laher milik Blade lebih besar ketimbang BeAT. Jika kode laher Blade 6904, maka kode bearing yang ada pada BeAT 6902. Makanya, laher BeAT lebih kecil. Sementara untuk part yang lainnya, tetap masih bisa aplikasi milik Blade.“Termasuk untuk gigi sentriknya,” tambah pria ramah ini lagi.

Sementara untuk proses bushingnya sendiri, perlu ke tukang bubut. Tentu minta bantuan sang ahli demi membuat dudukan baru dengan bahan besi ancuran. Sebagai bahan patokan ukuran, setidaknya perlu bushing dengan ketebalan sekitar 4 mm untuk membuat kem BeAT berfungsi layaknya. Menurut Monte, ada keunggulan lain ketika menerapkan langkah alias metode ini.

“Karena bearing BeAT lebih kecil, putaran kem juga menajdi lebih fokus,” katanya. Ibarat poros putaran yang terjadi, dengan laher kecil maka getaran yang diterima laher dan kem menjadi lebih minim ketimbang laher besar.

Selain itu ketika sudah aplikasi kem BeAT, juga tidak perlu khawatir ketika mengencangkan baut penahan pelatuk kem. Meski dikencangkan sekuatnya, dudukan baut tidak mungkin mendekati laher. Terutama ketika mesin mengalami pemanasan maksimal. Iya dong! Karena jarak baut dengan laher sekarang semakin jauh. Jadi lebih aman kan?

TONY MOTOR

Panjang Pick Up Pulser

Berikut adalah Grafik dengan 2 step advance

Tabel Daftar Panjang Pick Up Pulser

No

Model

Type

Panjang Tonjolan

(mm)

Type Sinyal / Pulsar

Sistem

Pengapian

 1

 Honda

 Supra / Legenda

 11.3

 Single – Positif

 AC

 Kirana

 14.0

 Single – Positif

 DC

 Meg Pro

 15.4

 Single – Positif

 DC

 Tiger 2000 / Phantom

 24.0

 Single – Positif

 AC

 Kharisma / CS1

 38.0

 Single – Positif

 DC

 Sonic 125 / CBR

38.0

 Single -Negatif

 DC

 Vario / Click

 38.0

 Single – Positif

 DC

 Beat

 38.0

 Single – Positif

 DC

 2

 Yamaha

 Vega-R / F1ZR

 57.5

 Double – Positif

 AC

 Jupiter-Z / Mio / Nouvo

 57.5

Double – Positif

 DC

 RX King

 Single – Positif

 AC

 Jupiter MX

57.5

 Double – Positif

 DC

 3

 Suzuki

 Shogun 110

14.0

 Single – Positif

 DC

 Smash 110

16.0

 Double – Positif

 DC

 Shogun 125

30.0

 Single – Positif

 DC

 Satria 120 R

30.0

Double – Positif

 DC

 Satria 150 F

39.0

 Double – Positif

 DC

 Spin / Sky Wave

41.7

Single -Negatif

 DC

 Thunder 125

47.0

 Single – Positif

 DC

 Thunder 250

70.7

 Single – Positif

 DC

 4

 Bajaj

 Pulsar 180 / 200

 44.0

 Single – Positif

 AC

 5

 TVS

 Neo

?

 ?

?

 Apache

 ?

?

 ?

 6

 Kawasaki

 KZX 130

 38.0

 Single – Positif

 DC

 Kaze R

 12.0

 Single – Positif

 AC

 Ninja RR

 9.0

 Single – Positif

 DC

 

REXTOR
12082011349
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.